Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2014

Mencipta Diri Sendiri




Baju satu
Kalau boleh memilih aku tidak ingin menjadi baju. Bebas dipakai oleh manusia dengan sesukanya. Dipilih dengan sekehendak hati, namun baju tidak bisa memilih majikannya. Belum lagi bentukku yang tidak jelas lengan dan kaki. Bangga pula designer melahirkanku dalam keadaan cacat seperti ini. Lengan tidak utuh, leher kesempitan, dengan kaki baju tepat ditas lutut majikan. Bila ia memasangkannya dengan rok tentu lebih baik, tapi lagi-lagi ia lebih suka menggunakanku sendiri. Apa indahnya.
Kalau boleh mengutuki, aku akan lebih banyak mengukuti yang melahirkanku. Tega nian dia melahirkanku bahkan memajang di etalase kaca dengan tampilan buntung lengan. Baiklah aku menyukai warna merah marunnya. Juga kain lembutku yang nyaman dan tidak melukai kulit majikan. Selebihnya tidak ada yang membuatku suka. Terlebih bila majikan menggunakanku dalam acara malam pada garden party. Itu acara pertama yang membuatku menyaksikan banyak teman-temanku bersama majikannya. Mereka sama menyedihkan denganku ditengah alunan musik, hingar bingar dan minuman beralkohol ditangan majikan.
Mereka mendongkol kepada majikannya. Tidak lagi peduli apa yang dilakukan sang majikan, bahkan saat angin menerpa ia tidak lagi berusaha melindungi kulit majikan. Membiarkan ia bergerak bersama angin. Terserah. Majikan pun tenang-tenang saja, kenapa aku yang lebih banyak memusingkannya. Ini bukan urusanku, ini urusan majikan dengan Sang Pencipta.

Baju Dua
Nasibku memang kurang beruntung. Dilahirkan dari pabrik yang tidak begitu terkenal. Hanya beberapa hari tergantung bersama ratusan baju yang lain, akhirnya tempatku beralih ke troli yang menumpuk banyak pakaian obral disana. Aku masih perawan dan lembut saat dikenakan. Belum pernah dijamah majikan. Warnaku juga indah, kuning soft. Entah siapa yang akan menjadi majikanku kelak. Tampilanku memang tidak layak untuk dipakai ke pesta, tapi setidaknya aku bisa berguna bila hanya ingin mengunjungi tetangga, ke pasar, atau bersantai di rumah. Lenganku utuh tanpa cacat apalagi buntung, dan hargaku juga tidak terlalu mahal.
Aku heran dengan manusia jaman sekarang. Lebih suka memakai baju buntung ketimbang baju normal tanpa cacat. Atau bila tidak cacat maka pasti baju itu sangat tipis dan transparan ditambah lagi ketat membungkus, hingga rasanya oksigen dibumi ini semakin berkurang. Lalu untuk apa mencipta dan memakai kaum kami kalau apa yang seharusnya kami tutupi terlihat semua. Belum lagi harganya yang selangit dan dipakai dengan bangga ke acara-acara yang tidak banyak ku pahami.
Baiklah, untuk tampilanku memang tidak layak untuk ke pesta atau acara-acara bergengsi. Tapi ini hanya aku. Ada jutaan temanku yang tidak buntung dan tidak pula transparan dan tentu saja dengan kuota oksigen lebih banyak, layak dipakai ke acara resmi. Aku yakin majikan yang menggunakannya akan tetap percaya diri, bahkan lebih yakin dengan penampilannya.
Tapi temanku yang bersosok sempurna seperti ini lebih banyak terpajang di toko tanpa ada majikan yang berminat memiliki. Menanti berbulan-bulan. Hingga ada tangan-tangan yang sekedar menyentuh dan merasakan kelembutan kainnya. Masalah harga tidak jauh berbeda dengan yang buntung. Lantas bila yang normal harganya hampir sama bahkan lebih murah ketimbang baju buntung, kenapa lebih memilih yang buntung. Sungguh aneh jaman ini.

Baju Tiga
Aku tidak begitu yakin ini keberuntungan atau musibah. Aku tahu dulu dibeli dengan harga mahal. Tentu karena aku dilahirkan sebagai jaket tebal yang hangat dan lembut. Tapi setelah bosan majikan menjualku dengan harga murah. Ditadah oleh penjual yang tak ku ketahui dan menjualku kembali ke sisi lain dunia ini dengan harga lebih mahal. Sungguh perjalanan melelahkan, bersama ribuan baju dengan nasib sama sepertiku. Bertumpuk dengan bau apek.
Setelah perjalanan dan proses jual beli, akhirnya aku kembali dipajang tentu bukan di etalase kaca. Hanya di pasar tua atau dipinggir jalan saat malam tiba. Bukan hanya baju yang dijual, ada pula temanku dari kaum selimut, tas, dan celana berbagai ukuran. Tapi dengan nasib serupa, bekas.
Aku dan semua kaum kain memang masih layak pakai, hanya saja majikan baru harus teliti saat membeli. Karena kadang ada kain yang berlubang, kancing terlepas, dan tentu saja aroma yang cukup menganggu pernafasan. Terlepas dari semua itu, harga kami lebih murah dan jangka waktu pemakaian hampir sama dengan yang masih perawan.
Untuk ke acara formal pun kami punya teman yang bersedia dijadikan kawan. Kawan yang mampu menutupi lebih banyak kulit, melindungi dari hembusan angin, dan tampilan tidak mengecewakan.

Baju-Baju
Aku bertemu dengan teman baru, dari tampilan sepertinya ia tidak dilahirkan oleh induk di daerahku. Tapi kami sama sempurnanya. Tidak buntung. Ternyata kami tidak hanya bisa saling sapa dari dalam kantong plastik masing-masing, kami dimasukkan ke dalam mesin pencuci yang sama. Pembicaraan kami semakin menyenangkan terkait kisah kelahiran kami hingga sampai ke majikan.
Tidak lama berselang, sebuah baju dimasukkan pula bersama kami yang tengah khusyuk bercerita. Tampilannya sangat menyedihkan, buntung lengan bahkan berbau alkohol. Tidak tega kami melihatnya menanggung derita sendiri. Kami bukan teman-teman kain yang egois. Jadilah kami saling membersamai.
Saat orang yang memasukkan kami ke dalam mesin telah menumpahkan detergen dan pewangi, perlahan kami berputar di dalam mesin. Teman baruku dari wilayah berbeda dengan tampilan yang tidak buntung sebagai jaket hangat. Segera menempelkan dirinya dibagian punggung si buntung dan menjadi lengan pula buatnya.
Sekilas tampak seperti busana seorang perempuan yang mengenakan jaket tebal diluar pakaian ‘indah’nya. Untuk lebih menguatkan ikatan, sigap saya melepaskan jahitan dan mengikatkan benang ke lengan antara si buntung dan si jaket. Bukan hanya lengan, bahkan bagian punggung pun saya rekatkan. Hingga benang-benang saya tak bersisa. Menyatu bersama sahabat terbaikku.
Tak peduli warna cairan dalam mesin pencuci telah berubah merah karena darah dari benang dan kulit kami. Setiap pilihan memiliki resiko, dan kami memilih melahirkan diri kami sendiri. Dengan bentuk lebih sempurna.


Terinspirasi dari tulisan Sapardi Djoko Damono

Rabu, 13 Maret 2013

Nutrisi Terbaik Untuk Sela


http://selaluberprestasi.files.wordpress.com/2012/05/sayur-dan-buah.jpg

Aku tahu. Sangat paham. Bahwa seutuhnya kamu tidak pernah memahamiku. Setiap isyarat yang aku kirimkan tak pernah betul-betul kamu pedulikan.
Aku ingin hidup dengan tenang. Tanpa ada kerusakan dalam diriku. Walau aku sadar yang kamu berikan padaku lebih banyak sakit. Luka. Dan aku semakin rapuh. Entah kamu yang terlalu membutuhkanku ataukah aku yang terlanjur tak bisa lepas dari dirimu. Badi. Aku. Aku ingin selalu membersamaimu.
Aku masih ingat, siang dengan teriknya. Menggugahmu untuk duduk pada sebuah kursi dalam ruangan berpendingin. Menikmati sejuknya. Bersama sebuah botol yang juga berisi cairan dingin. Tinggal setengahnya. Aku tahu Badi, Kamu sangat menikmati saat-saat seperti itu.
Saat dimana kamu duduk santai, tampak tanpa beban. Hanya terus mengonsumsi softdrink. Dengan sepotong fastfood. Sungguh nikmat hidupmu. Sadarkah kamu bahwa apa yang sering kamu konsumsi berpengaruh seutuhnya padaku. Padaku Badi.
“Badi, aku tidak membutuhkan itu. Sediktpun tidak”, kataku memperingatkanmu “Aku butuh cairan. Aku butuh vita…”.
“Sela!! Terima dan gunakan apapun yang aku berikan padamu”. Bentakmu “Aku yang lebih tahu segalanya”.
 Kamu masih ingat pertengkaran kita waktu itu kan Badi. Aku selalu berusaha memperingatkanmu. Bukan hanya sekali, berkali-kali aku mengirimkan sinyal. Tanda-tanda. Tapi tak sekalipun kamu memedulikannya.
Kalau aku harus terluka sekarang. Sebetulnya ini belum saat aku rusak. Tapi pola makan dan gaya hidupmu memaksaku. Mengharuskan aku menggunakan zat-zat yang tak memiliki nilai

Selasa, 13 November 2012

Pahlawan, Bukan Aku


“Bagaimana mestinya aku berjuang, sementara semangat milikku tak lagi mampu membawa kaki jauh meninggalkan rumah”.
Deraian air mata semula pelan, semakin mengeras bersama jeritan tertahan diujung bibir. Mengalirkan perih pada luka yang semakin menganga. Membawa pedih ke setiap saraf hati. Memudarkan bahagia.
Aku tetap duduk termangu. Menatap kosong keluar jendela. Menembus dinding waktu, mencari matahari. Berharap ada secercah semangat menelusup dalam gelapnya jiwa. Menarik masa depan, menjadikan lebih terang.
Rasa gusar kembali melingkupiku. Tak dapat lagi ku bendung. Setiap detik adalah berang. Menguras tenaga melalui air mata yang belum mengering. Melimpahkan kesalahan pada diriku, hanya aku yang salah.
“Aku membencimu. Bencii.. benciii..!!” Pekikku berusaha menahan suara. Menelan semua luka. Menjadikan tangis kembali pecah.
“Fina, Jangan terlalu dipikirkan perkataan Ayahmu. Emosinya sedang buruk.”
“Maafkan Fina, Bu”
“Hari esok masih menantimu Nak, menjadi Fina yang selalu semangat.”
Semangat, Sudah pergi meninggalkanku. Entah kapan ia akan kembali, menyalurkan masa depan pada sel-sel otakku. Menanggalkan titik hitam. Yang ku tahu tak mungkin bisa kembali seperti sedia kala. Karena setiap luka akan menyisakan kenangan.
Sama seperti luka yang kau tinggalkan untukku. Membiarkan aku sendiri, meratapi cedera. Aku tidak membutuhkan sesuatupun, cukup beradalah disisiku. Aku hanya butuh satu, yaitu kamu.
Kesakitan ayah, menghasilkan kata yang tak pernah bersua dengan pendengaranku sebelumnya. Bukan hanya satu, ada banyak kata bahkan kalimat yang semakin menjadikanku merana. Terlebih karena kau tidak lagi disini bersamaku.
Bukan karena benci sehingga ucapan ayah begitu menyempitkan dada. Menghalangi udara masuk ke paru-paru. Tapi karena rasa sayang dan kepercayaan yang terlalu besar. Hingga kenyataan menampakkan diri dalam bentuk sebaliknya. Menghasilkan kecewa dan luka juga pada dirinya. Hingga ia memutuskan diam.
Entah sampai kapan, luka dalam diriku memulih. Menghasilkan keropeng yang segera mengering. Menutup luka dengan bekas luas diatasnya. Bekas itu tak lagi menjadi soal penting. Asalkan aku kuasa untuk berbenah diri lebih sering.
Aku sedang merintih karena sakitku. Tapi, Kota Daeng dengan lalu lalang penghuni buminya – pejalan kaki, mobil, motor saling mengejar. Ingin segera tiba di rumah mereka. Menjadikan jalan raya semakin riuh, karena kebisingan suara kendaraan. Disertai teriakan supir menyebutkan tujuan pete-pete mereka. Juga anak-anak usia sekolah yang dibiarkan berada dijalan, dengan buku-buku jualan lusuh ditangannya.

Rabu, 04 Juli 2012

Untuk Ayahku

Tak pernah cukup rasa terima kasihku, untuk mengungkap balasan atas segala cintamu. Mulai dari A Ba Ta engkau ejakan padaku. Hingga tadarrus pun engkau terus menuntunku. Mengajakku mengaji bersama selepas maghrib berjamaah.
Entah apa yang membuatku lebih senang berbagi cerita kepadamu, mungkin karena ibu lebih senang bercengkerama dengan adik laki-lakiku. Ataukah sudah menjadi hukum alam, seorang anak perempuan akan lebih akrab dengan ayahnya, begitupun sebaliknya.
Ini kisah tentang ayah, jadi tak akan banyak singgungan tentang ibu disini, tapi ibu harus tahu bahwa anak perempuanmu ini sungguh sangat mencintaimu. Sama seperti cintaku kepada ayah. Walau Nabi meminta umatnya agar lebih mematuhi ibunya tiga kali, kemudian ayahnya sekali.
Ayah, keteladananmu selalu membuatku rindu akan sosokmu. Setiap sikapmu, berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagiku. Seperti nasi yang tak engkau biarkan bersisa di piring, walau hanya sebutir. “Rejeki itu harus disyukuri, dengan cara menghabiskannya”. Aku sudah menerapkan itu ayah, minum sambil duduk dengan menggunakan tangan kanan, juga sudah kudapatkan dalam bidang ilmuku, berdasarkan dari sunnah Rasulullah SAW.
Ayah, tulisanku ini mungkin sangat tidak sedap untuk dibaca, tapi ku ingin engkau tahu. Betapa aku sangat bersyukur kepada Allah. Karena telah memberikanku ayah penuh tanggung jawab dan kasih sayang kepada aku, ibu, dan adikku. Walau tanpa segan engkau menarik kupingku saat membandel, atau membuat adikku menangis. Ku ingat itu saat masa kanak-kanakku. Tapi, tak pernah engkau menyentuh bagian tubuhku yang lain saat marah, kecuali kuping kesayanganku.
Engkau juga dengan telaten merawat kuku jempol tangan kiriku, yang tanpa sengaja tertebas pisau saat aku mengupas tebu. Menyebabkan kukunya sukses terlepas hingga ke pangkal. Engkau merawatnya betul-betul hingga kuku jempolku kembali seperti sediakala. Ini juga disebabkan karena tulangku yang masih kanak-kanak memiliki potensial untuk koreksi remodeling. Sehingga dapat sembuh kembali. Untuk urusan ini aku lebih mempercayaimu ketimbang ibu.
Ketika aku demam tinggi pada malam hari, aku memanggil ibu. Secara setengah sadar. Itu karena secara naluriah aku memang tidak bisa jauh dari ibu. Hingga engkau dan ibu memutuskan untuk membelikanku obat, di malam buta. Dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer. Karena kita belum memiliki kendaraan saat itu, juga apotek yang jauh dari rumah. Nenek turut datang untuk menjagaku.
Kehangatan dalam keluarga ini, membuat segala perih menjadi canda. Walau kini jarak telah memisahkan kita. Inipun atas do’amu yang selalu meminta kepada Allah agar memberi jalan terbaik dalam hidupku. Do’amu mungkin telah terkabul, karena aku telah merasa nyaman disini sekarang, Bersama semua orang-orang disekitarku.
Usiaku yang sebentar lagi menginjak kepala dua, tidak membuatku menjadi gadis mandiri. Aku masih cengeng dan manja, ayah. Seperti saat engkau mengantarku ke eSeMA baruku, juga saat kuliah. Memaksaku untuk pulang sekali dalam setiap semester. Bila rindu padamu, aku hana bisa berdo’a semoga engkau baik-baik saja ayah bersama ibu.
Mungkin beginilah cara Allah mendidikku menjadi gadis tegar. Tapi, sikapmu dan ibu yang mengharuskanku meminta izin, ketika keluar rumah. Ternyata banyak merepotkan teman-teman sekolahku. Aku menjadi tidak berani untuk pergi sendiri, kemana-mana harus ditemani. Tapi, ini mengajarkanku untuk selalu bersikap jujur dalam segala hal.
Aku juga tidak begitu akrab dengan orang baru disekitarku, rasa canggungku kadang terkesan keterlaluan. Mungkin karena rumah kita yang jaraknya cukup jauh dari rumah tetangga. Sehingga mungkin kesannya aku pemalu dengan orang baru. Tapi, itulah yang aku alamai ayah. Aku sulit membuka diri dengan orang baru, aku perlu mengenalnya lebih jauh.
Aku memang sulit berinteraksi dengan orang baru, seceria apapun dia – aku juga penceria. Namun, saat aku merasa nyaman dengan seseorang. Aku akan selalu merasa membutuhkannya. Sampai temanku bilang “kamu itu, dulu sangat pemalu. Sekarang malah malu-maluin”.
Mungkin aku memang terlahir untuk menjadi gadis penceria yang cengeng ayah. Entah bagaimana caramu mendidikku dulu. Tapi, aku menikmati itu. Karena itulah yang menjadi pengingatku untukmu. Bahwa engkau memiliki seorang gadis yang selalu membutuhkanmu, untuk menjaga dan melindungiku. Jauh darimu membuatku semakin rindu. Rindu rumah, rindu kampung, juga rindu pada bintang dilangit atap rumah kita.
Tidak perlu lagi kuminta do’amu. Cukup kuberitahukan saja, apa yang sedang kulakukan kini. Bila aku akan melalui suatu tes atau ujian. Karena saat kutanyakan dan ku minta do’amu dulu. Engkau menjawab dari telepon “do’a Ayah dan Ibu selalu menyertaimu, Nak”. Itu artinya cinta ayah dan ibu tak ernah aus oleh jarak dan waktu.
 Semakin bertambah rasa bersalahku, bila aku berani meminta lebih. Atas apa yang telah engkau cukupkan padaku selama ini, ayah.  Ridhomu adalah ridho Allah. Maka, ridhoilah apa-apa yang aku lakukan. Bila itu tidak engkau ridhoi, tegurlah aku – walau aku tahu, engkau akan menegurku tanpa kuminta. Karena sungguh itu tidak akan mendatangkan barakah padaku.
Maafkan aku yang belum bisa memenuhi segala permintaanmu, yang kadang bagiku masih sulit untuk ku penuhi saat ini secara utuh. Tahajjudku yang masih belum rutin, dhuha yang kadang masih ku tinggal, dan asmaul husna yang masih belum kuhapalkan. Juga tadarrusku yang sulit menamatkan 1 jus dalam sehari. Tapi, aku selalu berusaha shalat di awal waktu. Seperti katamu, “Sebaik-baik shalat adalah di awal waktu”.
Bagaimana mungkin, aku bisa tenang dalam menuntut ilmu. Bila aku masih jauh dari Robbku. “Jaga shalatmu, perhatikan belajarmu, Nak”, tak pernah engkau lupa mengatakan kata sakralmu itu padaku, setiap kali engkau menelpon. Hingga aku juga merasa ada yang kurang, bila kata itu belum engkau ingatkan padaku.
Ayah, aku mencintaimu. Aku tidak ingin engkau diseret ke neraka saat sudah berada dipintu surga. Hanya karena aku, anakmu yang kurang taat dalam beribadah dan mematuhi nasehatmu.
Do’akan aku, agar diberi kemudahan dalam beribadah pada-Nya. Agar aku bisa menjadi anak yang shalehah, ayah. Anak yang memiliki sedikit ilmu dengan secuil keimanan. Ayah, ku tulis ini dengan rindu yang tak bisa lagi kuungkap, ingin rasanya segera pulang. Menemuimu. Bercerita banyak kepadamu – walau ini bukan tentang lelaki lain, yang kelak akan menggantikanmu dalam menuntunku menggapai ridho-Nya.

Kamis, 28 Juni 2012

Dua Keping Hati

Deburan ombak sayup terdengar. Mengantarkan hawa sejuk pada setiap pendengarnya. Mengiringi bulan yang merangkak naik, menjumpai malam. Bersama canda, tawa, dan senyum setiap orang yang saling berhadapan. Pada meja-meja mereka. Langsung menghadap laut pada ruang tanpa atap.
Seorang gadis duduk disudut ruangan. Dengan jilbab rapi menutupi tubuhnya, berwarna secerah langit pagi. Pada malam yang berhiaskan bintang. Ia hanya menatap langit, menghitung bintang. Berharap satu dapat dimilikinya. Tidak lagi Ia peduli pada kopi dihadapannya yang sudah dingin, hanya sesekali diseruputnya. Memandang bintang selalu bisa mendamaikan hatinya. Membuatnya lupa pada setiap luka dan duka.
Tak berapa lama berselang, seorang gadis berkulit putih bersih, rambut tergerai ke bahu, dan tinggi semampai menghampirinya. Duduk dikursi dihadapannya. Dengan senyum merekah. Sungguh pemandangan indah, melihat dua gadis yang sangat mirip duduk berhadapan.
“Kak Fina, maaf saya telat.” Katanya kepada sang kakak yang masih menatap bintang.
“Fira, liat deh. Bintangnya indah sekali kan.” Katanya tanpa menanggapi ucapan adiknya. “Saya lebih suka kalau bulan malam ini tidak tampak, saya hanya ingin melihat bintang.”
***
Kedua kakak adik itu meninggalkan restoran, tiba di rumah tetap pukul sepuluh. Tidak biasanya mereka diluar rumah sampai selarut ini, kalau bukan karena Fira yang kelamaan mengajar privat tadi. Tapi tidak pernah Fina mendongkol kepada adik satu-satunya. Karena rasa sayang mereka, bisa menghapuskan segala rasa benci di hati masing-masing.
Fina dan Fira memang kembar. Secara fisik mereka sangat mirip. Tapi, sangat kontras bila melihat kepribadian keduanya. Fina dengan kedewasaan dan kelembutannya, sedangkan Fira dengan sikap tomboi dan terlalu ingin mandiri. Ditambah lagi sikap Fira yang masih saja menolak untuk mengenakan jilbab.
“Fira, belajarlah untuk menutup auratmu.” Kata Fina mengingatkan adiknya. “Lebih baik bagi seorang muslimah untuk menutupnya rapat.” Sambungnya. Saat mereka sarapan sebelum berangkat ke kampus.
“Tapi pakai jilbab itu panas Kak Fina.” Kata Fira sambil mengangkat wajahnya. “Saya tidak tahan, gerah.” Lanjutnya sambil mengipas-ipaskan tangan ke wajahya, disertai kerutan diantara kedua alisnya.
“Kakak sangat berharap kamu mau mengenakannya, walau tidak sekarang Fira.” Kata Fina masih dengan kelembutan.
Fina tidak ingin menyakiti hati saudara kembarnya, saudara yang hanya lebih muda tiga menit darinya. Ia yakin suatu saat kekerasan hati adiknya akan luluh. Walau sebenarnya sangat ingin Fina mengatakan bahwa orang yang melihat Fira, sama saja dengan Fina yang tidak berhijab. Serapat apapun Ia menutupnya. Karena keduanya seperti cermin dan bayangan.
***
Tidak seperti Fira yang mengajar privat kepada siswa sekolah dasar, sepulang kuliah Fina hanya tinggal di rumah. Orang tuanya khawatir akan kesehatan putri sulung mereka. Sejak masih bayi sudah menjadi langganan rumah sakit. Hingga belakangan diketahui bahwa Fina menderita penyakit jantung bawaan, karena ada lubang pada jantung sebesar 8 mm disebabkan pertumbuhan jantung yang tidak sempurna saat dalam kandungan.
Hal ini membuat orang tuanya memiliki rasa khawatir yang berlebihan. Dan itu cukup beralasan. Karena pertumbuhan Fina lebih lambat dibanding adiknya, sampai mereka memutuskan untuk operasi penambalan jantung, atas saran dokter keluarga mereka. Bersyukur adiknya tidak menderita penyakit ini. Dan tiga hari setelah operasi yang berlangsung selama tiga jam, kondisi Fina membaik dan bisa tumbuh normal menyamai Fira. Ini sungguh kebahagiaan mendalam yang dirasakan keluarganya.
Walau demikian, ibunya masih sangat khawatir bila harus membiarkan Fina beraktifitas aktif seperti Fira. Meski Fira bisa menjaga kakaknya. Ditambah lagi, ketakutan Fina pada hujan deras. Namun Fira justru menyukai hujan.
“Firaaa…”. Teriak Fina tiba-tiba.
“Kak Fina, ini cuma hujan”. Kata Fira menenangkan kakaknya. “Hujan itu Rahmat bagi seluruh alam Kak”. Lanjutnya.
Fina tahu bahwa hujan adalah Rahmat. Tapi entah kenapa Ia tetap saja takut bila mendengar suara hujan. Apalagi bila disertai awan gelap menggumpal, menutup cahaya dari langit. Seakan tidak akan ada lagi cahaya mentari esok.
***
Hari ini, Fina tidak ada kuliah, Ia hanya tinggal di rumah. Membaca novel atau menghapal ayat-ayat dari Al-Qur’an. Tiba-tiba Fira masuk ke kamarnya dengan terburu-buru.
“Kak Fina hari ini tidak kuliah kan?” Tanya Fira dengan mimik wajah serius.
“Iya, ada yang bisa saya bantu Tuan Putri?” jawabnya diiringi candaan kepada adiknya.
“Hari ini saya ada praktek lapang. Seharusnya besok tapi dipercepat Kak”. Fira mengatur nafas. “Dan jam dua siang, saya ada jam ngajar…” Katanya menggantung, berharap kakaknya bisa menolongnya.
“Terus, hubungannya dengan kakak?” Tanya Fina seakan tidak mengerti.
“Rumahnya tidak jauh dari sini kok, juga dekat dari jalan raya.” Kata Fira dengan tampang memelas.
“Mana hand booknya?” Kata Fina akhirnya. Spontan Fira memeluk kakaknya, penuh terima kasih.
***
Fina sudah siap dengan tugas yang diamanahkan adiknya. Jilbab rapi sudah menutupi tubuhnya. Bedak yang dipoles seadanya, untuk menghalangi dari paparan sinar matahari. Walau tidak begitu terik karena terhalang awan. Setelah mencari-cari akhirnya rumah yang dimaksud ketemu.
Pagar tinggi, halaman luas. Tapi terlihat sepi. Fina memencet bel. Tidak lama berselang, seorang ibu setengah baya keluar dari dalam rumah. Sepertinya Ia pembantu disini.
“Saya guru privat yang mau mengajar Ari.” Kata Fina kaku.
“Iya, silakan masuk, Den Ari sudah menunggu”. Kata Ibu tersebut. “Mbak Fira pake jilbab yah?!!” lanjut Ibu tersebut spontan. Hanya dijawab dengan sunggingan oleh Fina. Tidak berniat Ia untuk menceritakan bahwa dia bukan Fira, tetapi Fina.
“Cantiknyaa kak Fira pake jilbab.” Kata Ari tulus setelah menyalami tangan gurunya itu.
“Makasih Ari. Sekarang kita mulai belajarnya yah.” Kata Fina sambil mengeluarkan alat mengajar dari dalam tasnya.
Keduanya tenggelam dalam kegiatan belajar mengajar. Hingga waktu 90 menit hampir selesai. diluar rumah, awan yang tadinya mendung kini telah menjatuhkan hujan satu-satu. Kemudian semakin deras.
“Kak Fira, kakak suka hujan kan?” Tanya Ari tiba-tiba.
“Eh, iya.” Jawab Fina kikuk.
“Main hujan yuk Kak Fira, kita kan sudah belajar.” Kata Ari dengan senyum khas anak-anak. Penuh keceriaan.
Tidak sampai hati Fina menghapus senyum indah itu, “Ya sudah, ayo.” Katanya sambil tersenyum. Walau terkesan sedikit dipaksakan…
Awalnya mereka hanya bermain di halaman. Tapi, karena hujan tak kunjung berhenti. Sehingga Ari mengajaknya bermain di jalan. Sejak tadi Fina sudah tidak tenang, rasa khawatir, gugup, dan tidak berdaya bercampur menjadi satu. Tapi, tidak kuasa Ia menghilangkan kebahagiaan yang terlihat jelas dari wajah anak itu. Hingga, suatu kejadian diluar kehendaknya terjadi.
Sebuah mobil melaju kencang, karena hujan mengguyur deras sehingga penglihatan tidak begitu tajam. Di saat bersamaan Ari berlari ke tengah jalan, hendak mengambil sebuah layangan yang sudah basah kuyup. Fina dengan sisa-sisa tenaganya, berlari hendak mengambil Ari. Namun terlambat, karena mobil semakin dekat.
Tidak ada lagi yang dirasakan Fina, hanya suara tangisan dan teriakan Ari yang terdengar. Lalu semua menjadi gelap. Sangat gelap.
***
Fira duduk di balkon kamar kakaknya, menatap langit penuh bintang. Tanpa bulan disana.
“Kak Fina, bintangnya sangat indah. Tidak ada bulan. Kakak suka malam seperti ini kan?” hanya sepi yang menjawab Tanya Fira.
Air mata sudah sejak tadi membasahi wajahnya, gerimis dihati karena kehilangan kepingan hatinya. Rasa bersalah dan penyesalan melingkupinya. Andai kakaknya masih berada di sisinya, Ia pasti akan tersenyum. karena kini adiknya sudah mengenakan jilbab untuk menutupi auratnya.
“Maafkan Fira kakak. Tidak bisa menjaga kakak. Fira sayang Kak Fina.” Katanya sambil menatap langit penuh bintang. Seberkas senyuman indah terlukis disana. Ya itu senyuman Fina.