Kamis, 21 Februari 2013

Hadiah Waktu Untukmu


_Setiap kisah memiliki waktunya
  Sekarang mungkin waktu bagi kisahmu
  Sedikit mengejutkanku

_Hingga aku sendiri belum tahu, kapan hatiku bisa kembali mencair
  Mempererat jalinan-jalinan yang kini sedang luka.
  Luka karenamu, juga bekunya hatiku yang menjadikan luka ini
  bertahan lebih lama.

_Tapi percayalah, aku merindukanmu
  Bersama sepatu-sepatu merah hatiku, yang sering kita pakai bergantian

Kamis, 14 Februari 2013

Menikmati Sakit



Menjadi datar
Membuatku mati

Aku telah mati separuh hidup
melalui hari secara biasa
Sedikit senyum, mengurangi tawa, tanpa mimpi

Ku izinkan takdir menggiringku kemanapun itu
biarlah berlalu titik-titik masa penuh cahaya
Menjadikan sinarnya bukan peluang

Belum saatnya. Belum sekarang
Ketertundaan yang tak pernah ku tunda
Kembali mengulang dengan alasan sama
Hingga satu per satu rambutku kehilangan matangnya

Aku tak lagi punya cukup waktu
Tak tahu harus memulai darimana
Negeri ini terlalu panas
Pemudanya bahkan telah mati lebih banyak dalam dirinya

Salahkan saja diriku
Tak menumbuh mekarkan pemudaku
Merelakan bangkai menebar aromanya dinegeriku

Lebih menyesakkan lagi
Karena aku kini telah hidup sepenuhnya
Baru menyadari
Bahwa ulatnya telah menggerogotiku
Tanpa mampu melakukan apapun
Hanya berdiam merasakan sakit
Hingga aku benar-benar mati
Bersama lenyapnya negeri dan pemudaku
Dalam hitungan detik.

Minggu, 23 Desember 2012

Selamat Hari Ibu


Selamat Hari ibu.
Selamat datang hari istimewa bagi setiap ibu.
Hari penuh senyum. tanpa lilin…

Membuat setiap ibu merasa paling istimewa, disanjung, disayangi. Sorot indah dari binar mata yang terpancar dari cahaya wajah-wajah penuh cinta. Hanya dengan memberikan 1 tangkai bunga dengan menyelipkan kata ‘selamat hari ibu’ sudah membuatnya merasa sangat diperhatikan.

Yah. Aksi bagi-bagi bunga pada hari ibu, 22 desember 2012. Bersama langit tanpa matahari sore, karena cuaca makassar sedang berawan. Siap memuntahkan hujan, diawali gerimis yang sudah menetes sesekali. Kami berharap hujan tidak benar-benar turun saat ini. Karena bunga ini bukanlah bunga biasa yang dapat diperoleh dengan mudah. Sebagai bentuk kasih dan cinta tak berujung kami (para calon ibu) kepada setiap ibu, maka bunga kertas berwarna merah, ungu, putih, pink, oranye berbungkus plastik dengan telaten berhasil kami hasilkan.

Maaf kepada ayah ataupun laki-laki yang permintaannya untuk memiliki satu tangai bunga tak kami kabulkan. Karena ini terkhusus untuk perempuan penegak madrasah peradaban.

‘Terima kasih Nak’, hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir setiap ibu, terlihat raut wajah penuh haru dan sanjungan disana. Terima kasih pula kepada ibu yang tetap setia mengiringi langkah-langkah dalam kehidupanku. Memiliki ibu disisi sangat berarti bagi jiwa yang butuh kasih. Bahkan kasih sayang pun aku dapatkan dari dirimu.

Cerminan jiwa melalui sikap dan tutur lemah lembut mampu menghalau segala resah, menguapkan penat. Betapa kehadiran ibu mampu mengisi ruang-ruang dalam hatiku. Meggenapkan cinta dari-Nya.
Raut wajah letih tak pernah aku temukan darimu saat bersamaku. Segala hal berusaha mama (panggilanku kepada ibu) jadikan lebih ringan. Walau belakangan aku tahu kenyataan kadang sedikit berbeda ketika usia tak lagi kanak. Kini terasa lebih sulit. Terlebih setelah jarak menjadi benteng tak tampak yang menjadi pemisah.

Happy mother’s day
Saayaannggg Mama…

-rindu rumah, rindu mama, rindu nenek, namun final kuliah belumlah kelar-